ditulis 12 Feb 2015, oleh: Admin

KUNJUNGAN KERJA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN KE PROVINSI JAMBI


Menteri LHK Dr. Siti Nurbaya didampingi pejabat eselon I di lingkungan KLHK dan Kementerian Pertanian melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Jambi. Maksud kunjungan adalah melihat dan mengevaluasi kesiapsiagaan KLHK dan pemerintah daerah dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan di Jambi.

Menteri LHK bersama-sama dengan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus meninjau kesiapan Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Jambi.  Di sana beliau melakukan dialog dengan pemerintah daerah dan jajaran KLHK yang ada didaerah. Dalam kunjungan tersebut, menteri LHK memeriksa kesiapan sarana dan prasarana penanggulangan kebakaran yang dimiliki Manggala Agni.

Selanjutnya menteri LHK melakukan pertemuan dengan Gubernur dan seluruh kepala daerah kabupaten/kota di rumah dinas Gubernur Jambi. Dalam rapat tersebut, menteri menyampaikan pesan Bapak Presiden bahwa tidak boleh lagi ada kejadian kebakaran besar yang terjadi di provinsi Riau. Hal ini beliau ingatkan  karena pada tahun 2014 lalu, terjadi kebakaran hutan dan lahan yang besar di provinsi Jambi yang menyebabkan terganggunya aktifitas pendidikan, penerbangan, ekonomi dan lain-lain. Gubenrur Jambi menyampaikan bahwa akibat kebakaran hutan dan lahan tersebut menyebabkan kualitas udara  atau Indeks Kualitas Udara Ambien (ISPU) di Jambi sampai pada tingkat sangat tidak sehat. Namun Gubernur mengatakan bahwa dibandingkan dengan provinsi lain seperti Sumatera Selatan dan Riau, jumlah titik panas sebagai indikasi kebakaran jumlahnya sangat sedikit.

Dalam upaya pencegahan karhutla, Gubernur telah melakukan langkah-langkah pencegahan antara lain melakukan sosialisasi terus menerus kepada masyarakat dan dunia usaha, penguatan sarana dan prasarana manggala agni, peningkatan peran masyarakat melalui penguatan Masyarakat Peduli Api (MPA). Pemerintah daerah bersama-sama dengan Polri juga melakukan upaya pencegahan sampai tingkat desa dan kecamatan dengan dipimpin oleh Kapolres.

Namun Gubernur menyampaikan kendala khususnya dalam pemantauan kualiats udara sebagai dasar dalam penetapan status tanggap darurat yaitu peralatan AQMS yang dimiliki dalam kondisi rusak. Oleh karena itu Gubernur meminta bantuan KLHK untuk menyediakan AQMS tersebut.

Menteri LHK mengingatkan bahwa ada 5 daerah rawan kebakaran hutan di Indonesia dan 3 di Sumatera yaitu Jambi, Riau dan Sumatera Selatan. Waktu yang patut diwaspadai terjadinya karhutla yaitu minggu III Februari sampai akhir Maret,  bulan Juni sampai Oktober dan puncak kemarau pada Agustus. Waktu-waktu ini adalah paling rentan terjadinya karhutla karena temperature udara sangat panas dan tumbuhan atau belukar sudah mengering.

Untuk mencegah terjadinya karhutla, Presiden memberikan lima arahan yaitu pertama  segera temukan lokasi titik panas (hotspot), kedua  segera padamkan jangan tunggu mebesar dan meluas, ketiga  satukan niat dan lakukan secara bersama-sama. Selanjutnya keempat adalah jika menemukan titik api, segera laporkan ke pemda, kelima lakukan pemantauan terus menerus didaerah rawan karhutla, keenam utamakan pencegahan daripada pemadaman dan terakhir akan diberikan insentif dan sanksi terhadap daerah.