ditulis 19 Jan 2016, oleh: yuni

RESTORASI EKOSISTEM GAMBUT DI KABUPATEN MERANTI


Pekanbaru, 19 Januari 2016

Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera sebagian besar terjadi di ekosistem gambut. Kebakaran ini menyebabkan dampak yang sangat besar baik dari segi kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Kabupaten Kepulauan Meranti sebagai salah satu kabupaten yang memiliki lahan gambut yang luas dan kedalaman hingga mencapai 12 meter menjadi salah satu daerah prioritas untuk dilindungi dari kejadian kebakaran hutan dan lahan.

Kabupaten Kepulauan Meranti adalah simbol dimulainya penyelamatan ekosisitem gambut dengan pembuatan sekat kanal. Hal ini ditunjukkan ketika Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan untuk melihat pembangunan sekat kanal di Sei Tohor. Pada kesempatan tersebut, Presiden memerintahkan supaya dilakukan sekat kanal pada lahan gambut sehinga ekosistem gambut tetap basah dan air tidak mengalir keluar.

Pada tahun 2016 ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sedang menyiapkan program pembangunan Hutan Desa di Kecamatan Tebing Tinggi Timur Kabupaten Kepulauan Meranti. Hutan Desa yang akan dibangun ini merupakan areal bekas PT. Lestari Unggul Makmur (PT.LUM) yang telah mengajukan penyerahan kembali areal konsesi HTInya kepada Negara. Luas konsesi PT.LUM yang akan diserahkan lebih dari 10.000 ha dimana saat ini masih berbentuk hutan alam dan pemukiman. Selanjutnya areal ini akan dikembangkan menjadi Hutan Desa yang akan dikelola oleh 10 desa di kecamatan Tebing Tinggi Timur.

Pertemuan persiapan pembangunan hutan desa ini dilaksanakan di Hotel Pangeran Pekanbaru pada tanggal 19 Januari 2016. Hadir pada kesempatan tersebut dari KLHK yaitu Staf Khusus Menteri LHK Hanni Adiati dan Nova Harivan. Selain itu juga hadir Kepala P3E Sumatera, perwakilan dari Dirjen PSKL, Dirjen PHPL dan kepala BPKH Pekanbaru. Sedangkan dari unsur pemda dan masyarakat Pejabat Bupati, Kadishutbun, Camat Tebing Tinggi Timur dan 10 kepala Desa di lingkup Kecamatan Tebing Tinggi Timur. Pada pertemuan tersebut, beberapa narasumber seperti Prof. Azwar Maas dari UGM dan Prof. Dr. Ashaluddin Jalil, M.S dan Dr. Haris Gunawan dari Universitas Riau.

Hanni Adiati menyampaikan program KLHK untuk pembangunan Hutan Desa merupakan program prioritas dari kLHK dengan target 12,7 juta ha dapat tercapai pada tahun 2019. Untuk wilayah Provinsi Riau, Kabupaten Kepulauan Meranti merupakan prioritas utama untuk dapat segera terealisasi. Oleh karena itu, KLHK sudah melakukan persiapan-persiapan dengan melibatkan Dirjen Planologi, Dirjen PHPL dan Dirjen PSKL. Para pakar gambut seperti Prof. Azwar Maas dan Dr. Haris Gunawan dilibatkan untuk memberikan masukan terkait teknis tata kelola ekosistem gambut. Sedangkan dari sisi sosial kemasyarakatan, Prof. Dr. Ashaluddin Jalil, M.S memberikan saran pendekatan investasi sosial sehingga dalam pelaksanaan program ini tidak terjadi konflik horizontal.

Penjabat (Pj) Bupati Kepulauan Meranti Dr. Edi Kusdarwanto, MM menyambut baik program KLHK dan akan mendukung selama program tersebut memberikan manfaat untuk masyarakat Kepulauan meranti. Pj Bupati mengakui bahwa saat ini ekosistem gambut sebagian sudah rusak dan tahun 2014 terjadi kebakaran yang cukup luas. Oleh karena itu, Pj Bupati berharap agar program Hutan Desa ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan dilain pihak gambut dapat terjaga dan tidak berulangnya kebakaran hutan dan lahan di kepulauan Meranti. (Ahmad Isrooil)