ditulis 21 Jan 2016, oleh: yuni

2016, BLH Sumut Masih Fokus Gerakan Penyelamatan Sungai


Medan | Jurnal Asia
BLH Sumut berharap di tahun 2016 gerakan penyelamatan sungai di Sumatera Utara da­pat di­tingkat­kan lagi. Hal ini di­ka­renakan tingkat pencemaran sungai di wilayah Sumatera Utara ma­sih mengkhawatirkan. Meski ber­bagai upaya telah dilakukan se­panjang tahun 2015, namun ge­rakan penyelamatan sungai masih harus lebih dimaksimalkan lagi.

Hal ini diungkapkan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumut, Hidayati. Ia menyadiri bahwa gerakan penyelamatan sungai tersebut tak hanya harus disadari oleh warga dan pemerintah saja, namun juga berbagai elemen dan institusi yang ada, termasuk swasta. Sehingga nantinya cita-cita sungai benar-benar bersih dapat terwujud.

Dengan kapasitas dana yang terbatas, Hidayati menjelaskan, di tahun 2015 BLH Sumut lebih fokus kepada perbaikan Sungai Deli. Hal ini dikarenakan Sungai Deli punya pengaruh luar biasa bagi warga kota Medan dan Deliserdang. Jadi selain digunakan sebagai air baku dan air minum, namun Sungai Deli bisa menyediakan terbuka hijau, membuat masyarakat akan lebih sehat.
“Contohnya di Marelan, ada beberapa meter lahan yang digunakan sebagai tempat ruang terbuka hijau. Untuk se­mentara lahan kosong yang kita gunakan untuk menghindari konflik dengan pihak tertentu,” kata Hidayati.

Hidayati mengungkapkan, untuk tahun 2016 ini, dibutuhkan energi baru yang dihimpun untuk meningkatkan gerakan penyelamatan sungai. Gerakan penyelamatan su­ngai itu sendiri terprogram selama 12 tahun, dimana empat tahun pertama tujuannya adalah sungai bebas sampah, dapat dilayari, terpadan tertata, dan penurunan beban limbah do­mestik dan industri.

Di tahun pertama, ge­rakan penyelamatan sungai meng­gunakan metode clean up yang dilakukan dua kali dalam satu tahun. Namun ternyata hal itu belum memberikan hasil maksimal, karena sampah sudah kembali menumpuk.

“Minimal clean up dilakukan dua bulan sekali. Itu rencana saya di 2016. Kemudian dilakukan piket sungai oleh masyarakat. Jadi masyarakat diberdayakan membersihkan sampah. Kami juga akan menggandeng pihak swasta maupun LSM yang ada, jadi biar kita semua tahu bahwa pekerjaan ini tidak segampang yang dipikirkan,” jelas Hidayati.

Lebih lanjut Hidayati me­nekankan, untuk men­dapatk­an hasil yang maksimal, maka diperlukan sinergi antara sektor-sektor atau dinas-dinas terkait. “Artinya, walaupun ini adalah kawasan strategis nasional, BLH Sumut nantinya akan menjemput bola kepada dinas-dinas terkait untuk program kerja yang akan mereka lakukan.

Jadi akan terjadi sinergi. Kalau sebelumnya, yang terjadi integrasi itu belum mak­simal. Hanya sekadar rapat, tapi untuk action-nya masih ber­jalan masing-masing. Padahal ge­rakan penyelamatan sungai perlu keterpaduan,” terangnya lagi.

Hidayati menambahkan, pihak­nya sejauh ini juga meng­gandeng pihak swasta untuk melakukan gerakan pe­nye­la­matan sungai, seperti melalui penanaman bibit pohon di daerah tangkapan air di kawasan itu. “Gerakan penyelamatan DAS Deli antara lain dilakukan dengan penanaman ribuan bibit pohon,” katanya, sembari mengatakan BLH bersama PT Soci Mas telah menanam 3.000 bibit pohon di daerah tangkapan air di sepanjang Sungai Deli sebagai upaya penghijauan.

Pohon dengan jenis mahoni dan jati itu ditanam di kawasan lima kecamatan yang merupakan daerah tangkapan air Sungai Deli, di Medan Maimon, Medan Polonia, Medan Marelan, Medan Petisah dan Medan Labuhan. “Gerakan penyelamatan Sungai Deli membutuhkan kerja sama dengan berbagai pihak, karena keuangan Pemerintah terbatas,” ujar Hidayati.

Dia menyebutkan, pe­na­naman pohon direncanakan bervariasi seperti jenis buah-buahan yang bernilai ekonomis bagi masyarakat di daerah tengah sungai yang berdekatan dengan permukiman penduduk.

BLH, ujar Hidayati, juga terus meningkatkan rehabilitasi Sungai Deli dengan menjadikan sungai itu sebagai objek wisata. Untuk objek wisata, BLH sudah melakukan kajian se­jak tahun 2003. Dengan men­jadi tempat wisata bukan hanya bisa menekan banjir tetapi menambah objek wisata yang sekaligus bisa menunjang pendapatan Pemerintah.

“Selain dengan swasta dan masyarakat, BLH Sumut juga melibatkan pihak lain termasuk Pemkot Medan, Pemkab Karo dan Pemkab Deliserdang yang dilintasi alur Sungai Deli sepajang 76 km tersebut,” katanya.

Tahun 2016 ini, BLH be­ren­cana akan melakukan pe­ngerukan sungai-sungai besar yang mengalir di Sumatera Utara. Beberapa di antaranya, Sungai Deli dan Batang Gadis. Pengerukan dianggap perlu dilakukan agar sampah yang telah mencemari Deli dan sam­pah pertanian yang telah mencemari Batang Gadis bisa dikurangi. “Kalau sungai deli kan penuh sampah dan Batang Gadis tercemar limbah pertanian,” katanya.