ditulis 21 Jan 2016, oleh: yuni

P3E SUMATERA MELUNCURKAN RENCANA UMUM PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN DAS KAMPAR


Pekanbaru, 21 Januari 2016

DAS Kampar termasuk salah satu DAS utama di Provinsi Riau yang berhulu di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. DAS Kampar melewati 6 kabupaten yaitu Pasaman dan Limapuluhkota di Sumatera Barat dan Kampar, Pelalawan, Kuantan Singingi di Provinsi Riau. Manfaat keberadaan sungai Kampar sangat besar untuk masyarakat. Sebut saja beberapa yaitu adanya PLTA Kotopanjang yang menyediakan listrik untuk 2 provinsi tersebut. Selain itu terdapat usaha budidaya ikan dengan Keramba Jaring Apung, pertanian, perkebunan dan Tentunya untuk kebutuhan domestik masyarakat.

Tapi saat ini kondisi daya dukung dan daya tampung DAS Kampar dalam kondisi kritis. Kerusakan ditandai dengan berkurangnya tutupan hutan di daerah hulu, abrasi, kebakaran hutan, penambangan illegal  yang pada akhirnya menyebabkan banjir, berkurangnya pasokan air ke waduk PLTA Kotopanjang yang menyebabkan pasokan listrik berkurang. Sedangkan  pencemaran berasal dari limbah domestik rumah tangga, perkebunan, pertanian dan budidaya perikanan.

Melihat kondisi tersebut, P3E Sumatera berupaya untuk memulihkan DAS Kampar dengan menyusun Rencana Umum Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Kampar pada tahun 2015. Dokumen ini disusun bekerjasama dengan Tim Ahli dari Universitas Riau yang dipimpin oleh Dr. Zulkifli. Untuk mensosialisasikan dokumen rencana tersebut, P3E Sumatera meluncurkan dokumen RUPPK DAS Kampar bertempat di kantor P3E Sumatera pada tanggal 21 Januari 2016.

Beberapa program proritas yang diusulkan untuk pemulihan adalah peningkatan tutupan lahan di daerah hulu dengan melakukan penghijauan dan reboisasi.  Hal ini senada dengan yang diungkapkan Ketua Harian Forum DAS Riau  Makruf Siregar bahwa tutupan lahan untuk keperluan operasional PLTA sudah menurun dan tersisa hanya 25%. Tahun 1985 luasan hutan di areal PLTA Kotopanjang seluas 3.331 hektar-an sekarang tinggal 886,1. Daerah tangkapan air yang sebelumnya berupa hutan sekarang sudah menjadi kebun sawit dan semak belukar, bahkan disinyalir diperjualbelikan oleh oknum. Dengan berkurangnya tutupan lahan untuk keperluan PLTA ini menyebabkan pasokan air di musim kemarau menjadi sangat jauh menurun. Inilah yang menyebabkan seringnya pemadaman bergilir karena PLTA Kotopanjang tindak mampu menyediakan listrik secara optimal.   

Aktifitas yang mencemari Sungai Kampar banyak berasal dari kegiatan domestik khususnya di daerah padat penduduk. Kurangnya kesadaran masyarakat dan kurangnya sarana sanitasi menyebabkan sungai tercemar. Selain itu faktor dominan pencemaran berasal dari kegiatan perkebunan sawit dan pertanian. Di PLTA Kotopanjang, pencemaran justru didominasi oleh banyaknya usaha budidaya ikan dengan Keramba Jaring Apung.

Dari hasil kajian terlihat bahwa masalah anggaran dan kebijakan menjadi masalah utama dalam pelaksanaan program-program pemulihan.  Pemerintah menjadi aktor utama yang diharapkan dapat melakukan pemulihan DAS Kampar. Oleh karena pada kesempatan tersebut, Kepala P3E Sumatera mengingatkan semua stake holder untuk bekerjasama dan berkomitmen  melestarikan dan memulihkan DAS Kampar terutama dari pihak pemerintah dan pemerintah daerah.

Hadir pada acara tersebut adalah BLH, Bappeda, PLTA Kotopanjang, Dinas Perikanan, Dinas Perkebunan, Dinas Kehutanan, BP DAS Indragiri Rokan, Forum DAS Riau dan instansi terkait di Provinsi Riau, Kabupaten Kampar, Pelalawan dan  Kuantan Singingi. (Ahmad Isrooil)